Mini
Story 1
JEMBATAN CINTA
Pertemanan kami
berlanjut di luar perkuliahan. Setelah malam inaugurasi, kami kembali ke daerah
masing-masing. Karena semangat 25 kami masih begitu kental melekat di hati
kami, kami berjanji untuk saling kontak dan tidak melupakan satu sama lain.
Disitu pertama kali aku
mengenal Kak Zein, dia selalu memberi semangat untuk selalu berjuang, dia
selalu melakukan pertama kali apa yang akan dia ucapkan. Di mata ku dia punya
nilai plus tersendiri. Tapi hanya sebatas itu.
Dua hari dirumah,
teman-teman ku kirim sms, ya aku yakin itu sms satu untuk semua, aku sering
dibuat ketawa karenanya. Ternyata mereka memegang kata-katanya agar kita tidak
lose contact.
Hari itu kak Zein yang
kirim sms “Masih semangaaaaaat”. “tetap semangat” balas ku. Sejak itu kami
sering sms an. Dia menceritakan masalah pekerjaannya, aku juga. Kadang aku
bertanya tentang masalah agama, dia dengan sabar mendengarkan. Dan kami
berdebat tentang sesuatu masalah agama.
Dia berjanji akan memberikan bukti-bukti bahwa apa yang dikatakannya itu benar
adanya sesuai dengan keilmuan yang kami ketahui. Dan kami pun berjanji untuk
bertemu langsung. Kami merasa, mungkin lebih tepatnya aku, merasa lebih dekat dengannya
ketimbang waktu kami di kuliahan dulu.
Dan hari itu pun
terjadi. Dia ke rumahku yang jaraknya sekitar 3 jam perjalanan nain kendaraan
pribadi jika jalannya lengang. Dan Mesjid itu jadi saksi kita bertemu. “aq
pastikan aku sudah tiba di tempat ini” katanya. “ya, 10 menit aku tiba”. ku
ambil motor ku, langsung menuju kesana, sepanjang jalan hatiku berkata “knapa
hati ku berdebar seperti ini? knapa aku merasa bahagia dia ada disini? Kenapa
aku jadi salah tingkah?, ah tidak, aku tidak boleh seperti ini, kita hanya
berteman, dan dia hanya akan mengklarifikasi apa yang kami perdebatkan, tidak!
dia Cuma teman, sama seperti dulu kami berteman di bangku kuliah”. Tak terasa
tiba juga aq di mesjid itu, aku parkirkan motor ku sambil ku cari, dimana dia
menyimpan motornya. Dan aq mengenali motor yang parker di sebelahku. “oh, iya
dia sudah datang”. Aku duduk di teras depan mesjid “salah tingkah”. Dan merasa
panas dingin seluruh tubuhku saat seseorang duduk tak jauh di sampingku “hai,
aku bawakan buku ini sesuai janjiku, sholat dulu yuk! Tuh dah adzan”. Aku Cuma
mengangguk, lidah ku kelu, muka ku kaku untuk sekedar tersenyum.
Shalat berjamaah
selesai, aku masih duduk di dalam. Apa yang harus ku lakukan? Menemuinya kah?
Atau pulang aja? Ih knapa dia belum juga sms. Dan tiba2 Hp ku berbunyi “aku
pulang duluan, ya?” “Oh, syukurlah” dalam hatiku “ya, hati-hati dijalan” balas
ku. Aku segera menuju tempat parkir. “Tapi kok motornya masih ada?, orangnya
mana? Ya udahlah, biar aku aja yang pulang duluan” tapi begitu aku menyalakan
motor ku “hai” sapanya dari arah belakang ku “oh, hai” “langsung pulang?” “Iya,
maaf ya aku gak bisa ngajak kamu mampir ke rumahku, kebetulan di rumah ku lagi
gak ada sapa2”, “Ya, udah gak pa2, aku juga buru2 mau balik lagi” “makasih
bukunya ya, nanti aku kabari gmn isinya” “ya” “Aku duluan ya?” dia mengangguk.
Ku gas motor ku
seakan-akan ingin segera berlalu dari situ. Aku belum bisa memaafkan diriku
“mengapa aku se bego ini? Knapa aku gak ajak dia untuk sekedar makan, atau
minum? Kasian kan dia datang jauh2. Hanya untuk memberikan buku ini dan aku
hanya berkata ‘terimakasih’, oh sungguh aku benci diriku”. Aku parkirkan
motorku di sebuah cafĂ©, rasanya aku dehidrasi. Dan Tut .. tut … tut … HP ku
berbunyi. Sms dari Kak Zein? Ada apa? segera ku buka dan “dah nyampe rumah?
Motor ku gak mau balik nich, mogok?” “dimana?” “gak tahu, jembatan, sungai
besar, udah gak ada lagi tanda-tandanya, tapi masih jalur ini?” “ya, aku tahu.
Aku kesana ya? Apa yang dibutuhkan?” kak Zein menyebutkan barang-barang yang
diperlukan untuk memperbaiki motornya. Aq segera cari ke toko onderdil motor.
Setelah ku dapat kan semuanya sesuai pesanan, segera q gas motorku, ku lihat
juga cuaca mendung, dan di perjalanan hujan lebat mengguyur tubuhku. Lima belas
menit aku sampai, Kak Zein membantu ku parkirkan motor “Duh maaf jadi
ngerepotin, hujan2an lagi” “gak apa-apa, Kak?, nie pesanannya, coba periksa”
“iya, ini”. Kak Zein langsung mengotak ngatik motornya. “Alhamdulillah ….”
Wajahnya tersenyum “Udah bisa, Kak” “udah, Alhamdulillah” “tapi, hujan lebat
gini, mau maksa balik atau nunggu hujan reda?” tanyaku “kayaknya nunggu hujan
reda, … kamu?” Kak Zein balik nanya,
“aku nemenin kak Zein dulu ah, sebentar, biar agar reda dikit, rumah ku gak
jauh dari sini kok”. Dan apa yang menjadi unek-unek terungkap saat itu.
Hikmahnya mungkin kami jadi bisa lebih leluasa curhat, berdialog, sharing, dan
mengenang masa teman-teman semasa di bangku kuliah. Ada sedikit plong di
hatiku. Aq cukup puas bertemu dengannya walau dengan keadaan seperti itu.
“Kak Zein, hujan dah
aga reda, boleh aku pulang?” “ya, makasih ya” “sama-sama” “maaf nich jadi
ngerepotin, pe hujan-hujanan lagi” “Gak apa-apa kok, itu khan gunanya teman,
mungkin suatu saat klo aku yang datang ke daerah kak Zein, gantian Kak Zein
yang aq repotin, ya!!” Kak zein tersenyum “hati-hati”. Aku mengangguk.
Malam itu tubuh ku
terasa demam, mungkin karena tadi kehujanan. Tapi merasa, entahlah sulit
diungkapkan, ada sesuatu yang membuatku merasa semangat menyambut hari esok.
Dan tut … tut … tut HP ku berbunyi. SMS dari Kak Zein “makasih, aku dah nyampe
dengan selamat” “Alhamdulillah” “dah mo tidur ya” “iya, Kak” “ya udah, met bobo
ya, semoga mimpi indah” “amin” “I hope you come into my dream Kak” bisikku
dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar