Kamis, 02 Mei 2013

Jembatan Cinta

Mini Story 1
JEMBATAN CINTA
Pertemanan kami berlanjut di luar perkuliahan. Setelah malam inaugurasi, kami kembali ke daerah masing-masing. Karena semangat 25 kami masih begitu kental melekat di hati kami, kami berjanji untuk saling kontak dan tidak melupakan satu sama lain.
Disitu pertama kali aku mengenal Kak Zein, dia selalu memberi semangat untuk selalu berjuang, dia selalu melakukan pertama kali apa yang akan dia ucapkan. Di mata ku dia punya nilai plus tersendiri. Tapi hanya sebatas itu.
Dua hari dirumah, teman-teman ku kirim sms, ya aku yakin itu sms satu untuk semua, aku sering dibuat ketawa karenanya. Ternyata mereka memegang kata-katanya agar kita tidak lose contact.
Hari itu kak Zein yang kirim sms “Masih semangaaaaaat”. “tetap semangat” balas ku. Sejak itu kami sering sms an. Dia menceritakan masalah pekerjaannya, aku juga. Kadang aku bertanya tentang masalah agama, dia dengan sabar mendengarkan. Dan kami berdebat tentang sesuatu masalah  agama. Dia berjanji akan memberikan bukti-bukti bahwa apa yang dikatakannya itu benar adanya sesuai dengan keilmuan yang kami ketahui. Dan kami pun berjanji untuk bertemu langsung. Kami merasa, mungkin lebih tepatnya aku, merasa lebih dekat dengannya ketimbang waktu kami di kuliahan dulu.
Dan hari itu pun terjadi. Dia ke rumahku yang jaraknya sekitar 3 jam perjalanan nain kendaraan pribadi jika jalannya lengang. Dan Mesjid itu jadi saksi kita bertemu. “aq pastikan aku sudah tiba di tempat ini” katanya. “ya, 10 menit aku tiba”. ku ambil motor ku, langsung menuju kesana, sepanjang jalan hatiku berkata “knapa hati ku berdebar seperti ini? knapa aku merasa bahagia dia ada disini? Kenapa aku jadi salah tingkah?, ah tidak, aku tidak boleh seperti ini, kita hanya berteman, dan dia hanya akan mengklarifikasi apa yang kami perdebatkan, tidak! dia Cuma teman, sama seperti dulu kami berteman di bangku kuliah”. Tak terasa tiba juga aq di mesjid itu, aku parkirkan motor ku sambil ku cari, dimana dia menyimpan motornya. Dan aq mengenali motor yang parker di sebelahku. “oh, iya dia sudah datang”. Aku duduk di teras depan mesjid “salah tingkah”. Dan merasa panas dingin seluruh tubuhku saat seseorang duduk tak jauh di sampingku “hai, aku bawakan buku ini sesuai janjiku, sholat dulu yuk! Tuh dah adzan”. Aku Cuma mengangguk, lidah ku kelu, muka ku kaku untuk sekedar tersenyum.
Shalat berjamaah selesai, aku masih duduk di dalam. Apa yang harus ku lakukan? Menemuinya kah? Atau pulang aja? Ih knapa dia belum juga sms. Dan tiba2 Hp ku berbunyi “aku pulang duluan, ya?” “Oh, syukurlah” dalam hatiku “ya, hati-hati dijalan” balas ku. Aku segera menuju tempat parkir. “Tapi kok motornya masih ada?, orangnya mana? Ya udahlah, biar aku aja yang pulang duluan” tapi begitu aku menyalakan motor ku “hai” sapanya dari arah belakang ku “oh, hai” “langsung pulang?” “Iya, maaf ya aku gak bisa ngajak kamu mampir ke rumahku, kebetulan di rumah ku lagi gak ada sapa2”, “Ya, udah gak pa2, aku juga buru2 mau balik lagi” “makasih bukunya ya, nanti aku kabari gmn isinya” “ya” “Aku duluan ya?” dia mengangguk.
Ku gas motor ku seakan-akan ingin segera berlalu dari situ. Aku belum bisa memaafkan diriku “mengapa aku se bego ini? Knapa aku gak ajak dia untuk sekedar makan, atau minum? Kasian kan dia datang jauh2. Hanya untuk memberikan buku ini dan aku hanya berkata ‘terimakasih’, oh sungguh aku benci diriku”. Aku parkirkan motorku di sebuah cafĂ©, rasanya aku dehidrasi. Dan Tut .. tut … tut … HP ku berbunyi. Sms dari Kak Zein? Ada apa? segera ku buka dan “dah nyampe rumah? Motor ku gak mau balik nich, mogok?” “dimana?” “gak tahu, jembatan, sungai besar, udah gak ada lagi tanda-tandanya, tapi masih jalur ini?” “ya, aku tahu. Aku kesana ya? Apa yang dibutuhkan?” kak Zein menyebutkan barang-barang yang diperlukan untuk memperbaiki motornya. Aq segera cari ke toko onderdil motor. Setelah ku dapat kan semuanya sesuai pesanan, segera q gas motorku, ku lihat juga cuaca mendung, dan di perjalanan hujan lebat mengguyur tubuhku. Lima belas menit aku sampai, Kak Zein membantu ku parkirkan motor “Duh maaf jadi ngerepotin, hujan2an lagi” “gak apa-apa, Kak?, nie pesanannya, coba periksa” “iya, ini”. Kak Zein langsung mengotak ngatik motornya. “Alhamdulillah ….” Wajahnya tersenyum “Udah bisa, Kak” “udah, Alhamdulillah” “tapi, hujan lebat gini, mau maksa balik atau nunggu hujan reda?” tanyaku “kayaknya nunggu hujan reda, … kamu?” Kak  Zein balik nanya, “aku nemenin kak Zein dulu ah, sebentar, biar agar reda dikit, rumah ku gak jauh dari sini kok”. Dan apa yang menjadi unek-unek terungkap saat itu. Hikmahnya mungkin kami jadi bisa lebih leluasa curhat, berdialog, sharing, dan mengenang masa teman-teman semasa di bangku kuliah. Ada sedikit plong di hatiku. Aq cukup puas bertemu dengannya walau dengan keadaan seperti itu.
“Kak Zein, hujan dah aga reda, boleh aku pulang?” “ya, makasih ya” “sama-sama” “maaf nich jadi ngerepotin, pe hujan-hujanan lagi” “Gak apa-apa kok, itu khan gunanya teman, mungkin suatu saat klo aku yang datang ke daerah kak Zein, gantian Kak Zein yang aq repotin, ya!!” Kak zein tersenyum “hati-hati”. Aku mengangguk.
Malam itu tubuh ku terasa demam, mungkin karena tadi kehujanan. Tapi merasa, entahlah sulit diungkapkan, ada sesuatu yang membuatku merasa semangat menyambut hari esok. Dan tut … tut … tut HP ku berbunyi. SMS dari Kak Zein “makasih, aku dah nyampe dengan selamat” “Alhamdulillah” “dah mo tidur ya” “iya, Kak” “ya udah, met bobo ya, semoga mimpi indah” “amin” “I hope you come into my dream Kak” bisikku dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar